Sabtu, 21 Maret 2015

[Review Buku] : Dua Cinta Negeri Sakura - Irene Dyah

Judul : Dua Cinta Negeri Sakura
Penulis : Irene Dyah
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 181 hlm
Harga : Rp 49,500
Seandainya aku tidak ke Solo waktu itu...seandainya nasib tidak membawaku bertemu pria itu...aku pastilah tetap menjadi Miyu Hasegawa yang normal. Gadis Jepang biasa yang hidup dalam irama tetap barangkali monoton, tapi toh, menikmatinya. Tapi sekarang? Aku bersandar di tempat tidur kanak-kanak yang bukan milikku, rambut semrawut, hati dan otak lebih semrawut lagi. Memelototi Crazy Stupid Love di TV tanpa suara dengan mata sembap. Meratapi dan mengasihani diri sendiri, jatuh hati pada pria yang salah.

Hidup Miyu yang tenang mendadak absurd karena kehadiran Scott , fotografer yang sering terlena menatap Miyu menari di pentas, melupakan kamera di tangannya. Lebih absurd lagi, Miyu harus menyembunyikan identitas pria itu dari kedua sahabatnya: Aliyah; istri dan ibu yang masih kerepotan mengurus hijab barunya, serta Ajeng; gadis metropolis yang nyinyir pada pernikahan.


Kala akal sehat tidak sejalan dengan hati , mana yang Miyu pilih? Lepas dari Scott yang tidak kenal kata menyerah, atau merelakan diri hanyut terbawa pesona yang begitu memabukkan?

Dan ketika Masjid Camii Tokyo mempertemukan Miyu dengan sang Bintang Fajar, sungguhkah Miyu telah menemukan happy ending-nya?

Jangan kamu melepaskan gunung permata di tanganmu hanya karena tergiur ingin memungut satu butir kecil batu yang tercecer. —Miyu Hasegawa

***
"Orang bila jatuh cinta, Cuma ada dua kemungkinan. Menjadi sangat peka, atau menjadi bebal kuadrat." – page 38
Tahun lalu, saya sempat mereview dan mengadakan Giveaway untuk sebuah novel berjudul Tiga Cara Mencinta karangan mba Irene Dyah (review click here). Seperti yang sudah pernah saya singgung di review tersebut, akan ada novel lanjutan dari Tiga Cara Mencinta. Dan, novel lanjutan tersebut telah terbit! Dengan judul Dua Cinta Negeri Sakura.  Yuhuu.. Mari kita bertemu kembali dengan Miyu, Aliyah dan Ajeng. :)

Dua Cinta Negeri Sakura masih bercerita tentang persahabatan Miyu, Aliyah dan Ajeng. Jika novel Tiga Cara Mencinta konflik berfokus pada Aliyah, maka konflik Dua Cinta Negeri Sakura akan berfokus pada Miyu. 


Persoalan cinta masih dipilih penulis untuk dijadikan sebagai cerita, namun adanya sentuhan Islami dalam cerita menjadikan novel ini mempunyai daya pikatnya sendiri *aishh . Tema yang diangkat dalam novel ini adalah Jatuh Cinta Pada Orang yang Salah *walau kata Ajeng, cinta ngga pernah salah (nah loh?)*. Itulah yang dialami Miyu. 

Miyu dan Scott tidak bisa membohongi bahwa mereka tertarik satu sama lain. Namun, kenyataannya Scott telah memiliki istri secantik putri dongeng bernama Misaki, masih pantaskah Miyu berjuang untuk mendapatkan Scott?
“Why don’t you just go for it?” Ajeng mengerutkan dahi. “Just because of his ring?”
“I can’t Jeng. I shouldn’t. Aku tidak ingin mengganggu rumah tangganya..”  - Page 101
Senang bisa membaca kembali cerita Miyu, Aliyah dan Ajeng di dalam buku keduanya. Miyu dengan segala kegalauannya, Aliyah yang sudah hijrah jauh menjadi lebih baik, dan Ajeng yang masih sama seperti sebelumnya—alergi pernikahan dan anak kecil.


Karakter yang paling mengalami pendewasaan dibanding buku pertama tentu saja Aliyah. Hijrahnya Aliyah diceritakan sangat menarik dibuku ini dengan sentuhan-sentuhan Islaminya. Pembaca akan menikmati alasan-alasan dibalik hijrahnya Aliyah sekaligus dapat belajar dari hal tersebut, terutama ketika Aliyah hijrah untuk memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, juga keputusan Aliyah untuk menggunakan hijab.
“Dalam islam tidak ada kewajiban perempuan untuk mencari nafkah. perempuan boleh bekerja jika dia mau, tapi bukan kewajiban. Dan justru, jabatan sebagai ibu rumah tangga itu lebih utama bagi seorang muslimah” – page 72
“Prinsipku begini, kalau memang sulit untuk mengubah semuanya sekaligus, kita mulai dari yang kecil-kecil dulu. Pelan-pelan. Dan jangan pernah meremehkan hal-hal kecil itu. Karena siapa tahu, justru tindakan-tindakan kecil yang baik itulah yang akan membawa kita ke surga” – page 76
Selain pendewasaan karakter, ada juga penambahan tokoh-tokoh baru yang membuat cerita lebih bervariasi. Salah satu karakter baru favorit saya adalah Asyila—fun, young, smart :)—selaku guru ngajinya Aliyah .

Di buku kedua, menurut saya pribadi, cerita yang mengalir masih kurang mengaduk-aduk perasaan pembaca, hubungan Miyu-Scott sebagai orang yang sedang jatuh cinta terkesan kurang intim :p. Selain itu, konfliknya terkesan terlalu cepat dan mudah diselesaikan. Terlepas dari semua itu, Miyu yang basicnya calm dan terbiasa dengan irama hidup yang monoton benar-benar dijungkirbalikan perasaannya di buku ini, dia gugup, dia berusaha menghindari Scott abis-abisan namun di sisi lain ia mampu untuk berdua dalam satu meja bersama Scott. Well ya, bagian tergila di novel ini adalah ketika Miyu sengaja naked di depan Scott. Itu benar-benar gila! :))
“Entahlah, aku nggak tahu bagaimana, pelan-pelan seperti tertarik begitu saja pada pria ini. Dia sangat laki-laki, tapi sekaligus peka dan halus. Kadang bisa bandel dan membuatku kesal karena keisengannya, tapi juga sangat penuh perhatian. Entah apa yang membuat aku jatuh hati.” –Page 101.
Negeri Sakura menjadi latar utama dalam novel ini. Tiga Cara Mencinta juga menggunakan setting Tokyo sebagai latar cerita, namun jika dibandingkan, di novel kedua penulis lebih berhasil mengeksplor Tokyo lebih dalam melalui tempat-tempat menarik yang ada. Mulai dari Area Sakura-zaka yang sepanjang sisi jalannya rapat dipagari pohon Bunga khas negeri Jepang ; Odaiba yang menjadi ikon destinasi wisata baru, baik bagi warga local maupun pejalan asing ; Ginza sebagai tempat shopping ; juga megahnya Masjid Camii.
"Masjid Camii di tengah kota Tokyo yang menakjubkan dengan arsitektur megah dan cantik ala Turki. Kubah masjid yang jauh tinggi itu begitu memesona karena sarat dihiasi kaligrafi dan ornamen dekoratif bernuansa islami" – page 155
Tidak hanya tempat-tempat menarik di Tokyo yang akan kalian temukan, namun budaya-budaya orang Jepang pun turut mendapatkan porsi cerita. Yang lebih menarik, saat cerita mulai membahas budaya di negeri Sakura dapat dipastikan paragraf berikutnya akan membahas perbandingan budaya tersebut dengan budaya Indonesia, menarik bukan? :)
“Di Indonesia, tidak ada kewajiban anak untuk mandiri sesegera mungkin. Namun di Jepang, hampir tidak ada tenaga asisten rumah tangga” – Page 15
"Orang-orang Indonesia ini selalu menghadapi semua masalah dengan ringan… orang jepang menyebut sifat ini sebagai “ooraka”… berhati besar, pemaaf, tidak menganggap besar suatu masalah. Sifat itu sungguh kontras dengan sifat bangsa Jepang. Bagi bangsanya, semua harus serbasempurna" – page 35
“Itulah enaknya berteman dengan orang Indonesia. Serbafleksibel, selalu menerima teman yang datang dengan tangan terbuka. Berbeda dengan janjian dengan teman jepang, yang sering kali harus direncanakan matang-matang beberapa minggu sebelumnya” – page 79
Memasukkan dunia tari sebagai profesi yang digeluti Miyu merupakan hal yang cerdas. Mengapa? Karena mba Irene sendiri memiliki kegiatan sampingan sebagai guru tari. So, menggambarkan gerakan tari dalam bentuk rangkaian cerita tentu bukanlah hal yang sulit. Betul begitu, mba Iren? :)
“Tarian sangat membantu menemukan irama hidupku yang baru. Meditatif” – page 57 
"Jadi, kenapa kamu ingin memotretku sebagai model penari? Aku rasa banyak perempuan Indonesia di Tokyo yang bisa menari. Mereka lebih pantas""Karena... karena kamu unik. Kamera menyukaimu. Kameraku menyukaimu" - Page 47
Pada bagian “Dari Pengarang” , mba Irene menulis “Beberapa komentar dari pembaca Tiga Cara Mencinta memesankan porsi cerita yang lebih besar untuk tokoh pria. Semoga harapan tersebut sudah terjawab oleh kehadiran Scott yang lumayan massif dalam novel bagian kedua ini
Let me say : Dear Mba Iren, walau telah menghadirkan Scott saya tetap menginginkan porsi cerita untuk Takuma—suami Aliyah. I don’t know why.. saya masih ngga puas dengan porsi cerita Aliyah-Takuma. Apalagi di buku kedua, porsi Takuma dikit pisan. :p


Halaman terakhir novel kedua serius membuat saya penasaran banget untuk cepat-cepat membaca lanjutan cerita Miyu-Aliyah-Ajeng di buku ketiga yang belum terbit. ( . _ . ) / | Uh, semoga cepat terbit ya mba \o/ 

Buat yang sudah pernah baca Tiga Cara Mencinta kalian harus baca Dua Cinta Negeri Sakura, buat yang belum? Ikutan baca juga dong keduanya, hehe. Selain dapat kisah fiksi, insyaAllah juga bisa dapat ilmu baru setelah baca novel ini :D
Untuk menutup resensi novel ini, izinkan saya mengutip kalimat dari mba-Ajeng-yang-alergi-pernikahan : 
Cinta kan ngga pernah salah, Miyu! Lo ngga bisa atur dong, bakal suka sama siapa. Namanya hati, ya tidak bisa dianalisis, dihitung-hitung seperti ilmu fisika. – page 102


28 komentar:

  1. reviewnya oke, bikin penasaran sama ceritanya, apalagi ada n'kednya haha, tapi secara pribadi, aku lebih penasaran sama ceritanya ajeng yang alergi pernikahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di buku ini cerita Ajeng yang alergi pernikahan ngga terlalu dibahas, nanti di novel ketiganya baru deh full cerita tentang Ajeng dan segala konfliknya :D

      Hapus
  2. Well, novel yang menarik^^ aku belum baca yang Tiga Cara Mencinta, tapi kayanya sama menariknya dengan yang ini. Sepertinya novel ini cocok banget sama aku, mencintai orang yang salah (walaupun bukan sama yang udah nikah sih^^). Ada cerita tentang sahabat nya lagi, it'll be a good novel😁😍:)

    BalasHapus
  3. Reviewnya keren.. Sampe memperlihatkan setting-an masjid Camii, keren ^_^.. Novel ini fokusnya ke Miyu yaa, jadi kalo gak ada aral melintang mbak Irene bikin novel ketiga yang fokusnya ke Ajeng dan Kota Thailand "kalo gak salah nebak yee".. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes! Buku ketiga akan fokus ke Ajeng, hehe.

      Hapus
  4. Reviewnya ok banget detail lagi. Pengen banget punya novelnya ^_^

    BalasHapus
  5. Sepertinya Ajeng bakal jadi karakter favoritku ^^
    Novel ini menggiurkan sekali >.< settingnya di Jepang, mengeksplore budaya Jepang juga, aakk.. aku mauu novelnya!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka karakter Ajeng. Di novel serial ini, karakter dia emang paling 'hidup' banget sih. Makanya aku ngga sabar nunggu buku ketiga yang ceritanya akan fokus ke Ajeng :D

      Hapus
  6. Selamat mba, review Anda membuat saya ingin membaca buku ini secara lebih lengkap lagi :)

    BalasHapus
  7. aku belum baca buku yang pertama. kira-kira masih layak nggak ya kalau aku langsung baca buku yang kedua ini? hehe
    to be honest, ada 2 poin yang menurutku jadi spoiler banget di review ini, yaitu rahasia Scott--hal yang membuat Miyu jadi ragu--yang sudah punya anak istri, dan Miyu sengaja naked di depan Scott. wow! i think these two are the big bomb so far, kecuali masih ada big bomb lain yang lebih dahsyat.
    saya suka reviewer yang bela-belain googling gambar mengenai setting yang ada di novel dan ada banyak kutipan yang dicantumkan. good job!

    BalasHapus
  8. Wow..ternyata ini buku ke 2, uda ketinggalan yang pertama dong..hehehe semoga aja ketinggalannya gak jauh banget :)
    Buat reviewnya nice banget kak, jadi tambah penasaran...hahaha
    Terutama kisah miyu sama scott. Bagaimana keraguan Miyu pada Scott yang uda punya pendamping, namun masih bisa bersifat naked dihadapan scott...hehehe

    BalasHapus
  9. Jatuh cinta sama pasangan orang (serasa nampar muka sendiri). Demi apap pun rasanya sangat menyakitkan. Menyadari bahwa ada cincin melingkar dijari manis tangan kanannya. Menyadari bahwa setiap pagi ada yang menyiapkan kopi untuk dia. Setiap malam ada yang menemaninya tidur. Ohhh... Sangat menyakitkan. Turut berduka cita buat Miyu

    BalasHapus
  10. Saya sebenarnya kurang suka dengan novel yang benar-benar berisikan tentang cinta. Awal membaca judul bukunya 'Dua Cinta Negeri Sakura' saya berfikir 'ah cinta lagi cinta lagi' setelah membaca reviewnya hingga selesai saya malah jadi orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan seluruh isi buku ini.

    Buku ini menarik, tidak hanya berisikan tentang cinta. Tetapi juga berisi tentang Hijrahnya Aliyah yang sangat ingin sekali saya baca, Hijrahnya Aliyah pasti bermanfaat buat orang-orang yang membaca novel ini karena Hijrahnya Aliyah pasti sangat menyentuh, mengingatkan, sekaligus menampar hati bagi kita yang belum kunjung berHijrah :)

    BalasHapus
  11. Aku selalu suka tema percintaan dan persahabatan. Ahh, jadi penasaran dengan persahabatan Miyu, Aliyah dan Ajeng...

    Dan quote paling keren ya ini...
    "Orang bila jatuh cinta, Cuma ada dua kemungkinan. Menjadi sangat peka, atau menjadi bebal kuadrat."

    BalasHapus
  12. Waw!

    Aku sudah baca novel 3 cara mencinta mba, ketika mba irene menanyakan, "kamu termasuk tim yang mana?" Aku jawab, "Aku (cenderung) menjadi tim Ajeng mba"

    Dan secuil review 2 cinta di Negeri Sakura ini menarik! Tidak sabar untuk membaca versi lengkapnya.

    Dan tentu, aku amat tidak sabar dan menantikan kisah Ajeng, karena beberapa kisah dan pengalaman pahit ttg percintaan lah, kini aku menjadi tim Ajeng, but in the deepest of my heart, still , aku tentu menantikan sebuah cinta yang tulus.

    BalasHapus
  13. reviewnya bikin penasaran. jadi pengen baca keseluruhan :)

    BalasHapus
  14. Sejauh ini aku suka sama review kakak. Rapi. Dan bikin pembaca penasaran sama novel Dua Cinta Negeri Sakura. Dan dari semua kutipan-kutipan yang kakak tulis di atas, ada satu yang bener-bener nyentuh buat aku, ini: "Karena... karena kamu unik. Kamera menyukaimu. Kameraku menyukaimu" Ini buatku keren, dialog yang cerdas. Unik. Hehehe...

    BalasHapus
  15. Entah kenapa baru baca bagian awal review ini aku malah penasaran sama sosok Ajeng (nah lo?) Wkwk.
    Untuk reviewnya sendiri menurutku lumayan bikin penasaran sama buku aslinya. Jadi pengen baca kan. :"]
    Belum lagi tema (seperti yang dibilang di atas) tentang jatuh cinta pada orang yang salah... haduh, makin kepo.
    Overall, aku suka reviewnya. Soalnya aku nggak bisa bikin review sedetail ini. :)))

    BalasHapus
  16. Baca review-nya bikin pengen baca bukunya. Konflik yang diangkat pun tidak terdengar klise. Dengan perputaran porsi pada setiap tokohnya, novel ini tampak cukup ciyamik untuk diselipkan di rak buku :)

    BalasHapus
  17. Miyu merahasiakan identitas Scott dari sahabatnya? Jika aku yang jadi Miyu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Sayangnya, cinta memang tidak mudah ditebak. Tidak akan tahu kapan datangnya dan pada siapa. Aku paham kenapa Miyu merahasiakan laki-laki ini, apalagi dengan status Scott yang tidak single lagi. Walaupun hal itu justru membuat semakin galau karena tidak ada teman untuk berbagi cerita.
    Aku belum baca buku Tiga Cara Mencinta, tapi sudah sempat membaca sinopsis dan beberapa reviewnya. Menarik sekali, cerita persahabatan perempuan selalu punya banyak kejutan. Semoga bisa memenangkan novel ini, setidaknya bisa masuk dalam kisah persahabatan Ajeng-Miyu-Aliyah :)

    BalasHapus
  18. Paling suka quote kalimat yang ini : "Orang bila jatuh cinta, Cuma ada dua kemungkinan. Menjadi sangat peka, atau menjadi bebal kuadrat." – page 38
    Benar deh terorema cinta itu unik, karena cinta bisa menjadi benci (makanya cinta disebut virus karena da fase dorman, yaitu galau, fase matiyaitu patah hati, fase aktif yaitu ketika lagi tergila-gila), cinta juga bisa membuat logika menjadi kabur kayak kabut ^.^
    Tapi cinta juga bisa membuat hidup penuh passion, otak menjadi terang seperti baterai 1 juta KW, terutama pas lagi pedekate dan melancarkan rayuan gombal yang semanis madu :)

    BalasHapus
  19. Eh? Aku baru ngeh buku ini ada sekuelnya! Miyu-Scott, padahal tadinya mau cerita Ajeng dulu, aslinya aku banget! Nggak sabar pengin baca buku ini juga >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiga Cara Mencinta-nya udah dibaca belum Syifa?:p *aku tau kamu hobby nimbun buku soalnya*

      Hapus
  20. Novel yang ini boleh dibaca acak nggak sih? Misalkan seri kedua dulu, baru baca 'Tiga Cara Mencinta'?
    Tertarik setting Tokyo-nya :D

    BalasHapus
  21. banyak sisi negatif dan positif dalam novel yang aku dapatkan dalam review ini. Aku penasaran dgn novel ini setelah membaca review kakak terlebih lagi novel ini memiliki sentuhan islami. semangat untuk terus mereview dan menularkan virus hobi membaca kak ^^

    BalasHapus
  22. Wahh~~ penulis menggunakan setting ceritanya di Jepang ya. Bakal diajak “jalan-jalan” sama penulis-nya secara nggak langsung nih #hehe.

    “Tidak hanya tempat-tempat menarik di Tokyo yang akan kalian temukan, namun budaya-budaya orang Jepang pun turut mendapatkan porsi cerita.”

    Selalu suka sama budaya-budaya orang Jepang. Bakal dapet ilmu dan pengetahuan baru tentang negeri Jepang kalau dapat novel ini. Apalagi dalam novel ini penulis mengangkat tema persahabatan yang menurut saya selalu mengangkat nilai yang apik dan bahkan bisa menjadi inspirasi bagi para pembacanya.

    BalasHapus