Selasa, 31 Desember 2013

Hello Gambir

Setiap hari mataku tertuju pada deretan tanggal kalender di bulan desember. Waktu kenapa cepat sekali berlalu, perasaan baru kemarin aku lulus kuliah, diterima jadi karyawan percobaan selama tiga bulan di perusahaan ayah, lalu diangkat jadi karyawan tetap. Dari semua bulan berlalu di tahun dua-ribu-tiga-belas nasib percintaanku lagi dalam tahap buruk-buruknya, aku jomblo sepanjang tahun ini.
“Dena, ngapain kalender dilihatin mulu kaya gitu” aku tersadar dari lamunan ingatan masa lalu setelah Mas Miko—karyawan kepercayaan atasan departemen logistik—menegurku. Di perusahaan ayah, aku bekerja di bagian logistik. Awalnya aku menolak bekerja di perusahaan ini, karena ayah langsung memberikan posisi penting di perusahaan, tapi aku sadar, kemampuanku belum mampu untuk menghandle posisi yang ditawarkan. Akhirnya, aku menolak posisi yang ditawarkan dan menyetujui untuk bekerja di perusahaan ayah dengan beberapa syarat, salah satunya tidak untuk ditempatkan pada posisi penting pada perusahaan!
“Eh mas mik, iya nih aku kok jomblo terus ya? Mas mik ngga ada kenalan apa yang cakep-cakep gitu?”
Mas miko yang ada di samping kubikelku mendekat ke arahku lalu menempelkan punggung tangannya ke dahiku kemudian berkata “Engga panas kok, kamu engga sakit, kok ngelantur sih den?”
Dahiku berkerut “Astaga maksud mas mik? Aku serius kali, ini yah mas mik, sepanjang tahun 2013 aku tuh jomblo. Udah ganti status dari mahasiswi ke karyawan tetap aja aku jomblo…” Sebelum aku selesai berbicara mas miko langsung memotong kalimatku sambil memberikan setumpuk dokumen yang telah dipegangnya. Hah. Seharusnya aku tahu dari awal apa tujuan mas miko menghampiriku!
“Nih! Ini sudah bulan Desember, artinya semua karyawan akan disibukkan dengan laporan akhir tahun. Tidak terkecuali kamu. Oke? Bantu saya periksa dokumen ini, jam empat sore sudah harus selesai” mataku membulat kemudian berkata “Dokumennya banyak banget ini, mas miko kok tega sih?”
“Tidak ada perlakuan istimewa buat anak owner perusahaan bukan?”
Skakmat.
Lalu mas miko berlalu dari kubikelku dan meninggalkan wangi parfum maskulin yang selalu dikenakannya setiap hari. Dan aku menyukai wangi parfum tersebut.  
***
Telepon di meja kantorku berbunyi sesaat setelah menyerahkan dokumen yang sudah diperiksa kepada mas miko. Segera aku mengangkatnya.
“Hallo, selamat sore, dengan Dena Mirella ada yang bisa dibantu?”
“Nak.. nanti kamu pulangnya bareng miko saja ya. Ayah sudah contact dia barusan, dia bersedia untuk mengantar kamu sampai rumah”
“Hah????”
“Kamu pulang sama miko. Sudah ya, ayah banyak kerjaan” KLIK. Telepon ditutup.
Aku langsung memijat dahiku, pusing. Aku tidak mengerti sikap ayah, biasanya ia membiarkan aku pulang sendirian atau diantar dengan fasilitas mobil kantor. Kenapa juga harus berhubungan dengan mas miko lagi hari ini, Ya Tuhan?
Aku melirik jam, sebentar lagi waktu pulang dan akhirnya aku mempersiapkan hati dan pikiran untuk melewati kejamnya kemacetan Jakarta di sore hari bersama mas miko.
***
Disinilah aku berada, dalam mobil mas Miko Brahmana. Karyawan kepercayaan Pak Hari—atasanku—yang memiliki fisik hampir sempurna. Mas miko adalah dambaan kaum hawa, dan ancaman bagi kaum adam. Satu hal yang paling aku sukai pada fisik mas miko adalah lesung pipi yang akan muncul saat lelaki ini tersenyum. Umurnya sudah 26 tahun, dan masih single. Aku rasa ia adalah tipe pemilih garis keras, tidak mungkin tidak ada hawa yang tidak menyukai dirinya. Aku menyukainya juga, tapi tidak ingin memilikinya, entah kenapa.
“Kamu lapar den?” mas miko bersuara dengan tatapan tetap fokus pada jalan raya yang padat merayap.
“Engga kok mas, kenapa emang?”
“Lagian diem aja, cerita dong. Bukan pertama kali semobil sama saya kan?” lanjutnya.
Iya bukan pertama kali. Tapi pertama kali untuk nganterin aku pulang ke rumah. Tiba-tiba terlintas pikiran untuk bertanya kenapa lelaki ini bisa diperintah ayah untuk mengantarku.
“Mas, kok bisa disuruh ngantarin aku pulang sih?”
Ia diam beberapa detik lalu menjawab “Saya juga ngga tau sih kenapa. Biar kita dekat kali”
Aku langsung bereaksi “Heh, maksud mas mik? Ayah lagi ngga mau jodohin kita kan?”
Astaga, aku berbicara apa barusan. Mas miko langsung mengalihkan pandangannya menatapku, dan tersenyum. Astaga senyuman itu… “Bisa jadi den” lagi sambil tersenyum..
Seketika aku ingin meralat ucapanku barusan dan ingin pingsan! Detik kemudian ia membicarakan sebuah topik yang membuat aku tertarik “Tadi pagi kamu nanyain kenalan aku yang cakep-cakep kan?”
Aku lantas menatapnya “Heh masih inget toh, iya nih mas. Ada kenalan ga?”
“Saya kan jomblo den, kenapa ngga sama saya saja sih?” aku menatapnya sinis. Dan terdiam, aku berjanji tidak akan berkata sepatah kata apapun pada pengemudi ‘penggoda’ ini sampai tiba di rumah.
“Becanda den! Tenang, saya punya kenalan banyak, nanti saya seleksi yang terbaik untuk kamu. Nanti saya juga atur ketemuan kalian deh. Pokoknya anak owner terima beres” terangnya sambil tersenyum menatapku yang tetap terdiam. Please mas miko! Ngga usah pake senyum, senyummu itu menggoda iman!!
***
Hari di bulan Desember berlalu sangat cepat dan sudah memasuki minggu ketiga. Tanggal 20! Natal dan Tahun Baru akan segera menyambut. Liburan akhir tahun yang didamba akan segera datang. Ah rasanya aku ingin cepat liburan setelah kerja rodi bersama karyawan dan divisi lain untuk menyelesaikan laporan akhir tahun. Dikit dikit revisi dikit dikit revisi itulah atasan departemen logistik, orangnya perfeksionis, tak heran banyak karyawan yang lembur, tak terkecuali untuk aku.
Aku meniup perlahan asap yang mengepul dari cangkir teh manis yang baru aku buat di pantry sambil melihat ke arah luar jendela dimana langit sedang menurunkan rintik hujan. Kebetulan kubikelku berada paling pojok, dekat jendela jadi aku dapat melihat ke arah luar, melihat gedung pencakar langit dengan pemandangan yang berkabut serta kemacetan lalu lintas Jakarta siang itu.
Seseorang menepuk lembut pundakku “Dena..”
Aku memutar kursi ke arah orang tersebut, dan ternyata “Mas miko? Ada apa?”
Ia menarik sebuah kursi yang ada di depan kubikelku yang kosong “I need your help den. Mau bantu ngga?”
“Heh, tentu mas.. mau dibantuin apa?”
“Adikku hari ini datang dari Surabaya. Saya sudah janji jemput, tapi ada revisi mendadak dari Pak Hari. Kamu mau jemputin dia ga? Semua izin nanti saya yang ngurus. Kamu pake mobil saya saja”
Aku berpikir sejenak “Kenapa harus aku ya mas?”
Ia berpikir kembali “Soalnya..” ia memelankan suaranya “Semua pada sibuk, cuma kamu karyawan yang ngga terlalu sibuk banget. Please!” melihat mas miko memohon seperti itu mana tega aku menolak. Tapi sebelumnya ia memberikan sebuah sindiran atau pujian sih? Ah sudahlah, akhirnya aku menyetujui permintaannya “Baik. Harus jemput dimana?”
“Stasiun Gambir. Kereta tiba jam 15.30” aku melirik arloji di tangan kanan yang menunjukkan pukul 14:30.
“Oke. Bisa kok, yaudah aku langsung kesana mas” lalu aku berdiri dan mengambil kunci mobil yang mas miko serahkan.
“Hati-hati ya. Nanti detail tentang Adikku, aku message”
Aku mengangguk setuju dan berlalu menuju basement dan pergi ke stasiun Gambir. Gambir.. sejuta memori
***
Perjalanan dari kantor menuju gambir berjalan lancar, tidak macet. Sekitar jam tiga aku sudah menginjakkan kaki di stasiun. Sebuah pesan yang berisi detail adik mas miko telah diberitahukan, aku mengamati pesan tersebut dengan saksama agar tidak salah orang nantinya. Oh ternyata adiknya cowo, itu yang pertama kali ada di benakku saat membaca pesan tersebut.
Aku memilih menunggu di salah satu food court sembari mengisi perut yang entah kenapa kembali meronta untuk ketiga kalinya hari ini.
Otakku membawa kepada ingatan empat tahun ke belakang. 
Gambir. Bagi orang lain ini hanyalah sebuah stasiun, tempat naik turun penumpang kereta. Tapi bagiku Gambir adalah tempat perpisahan bagi beberapa yang ditinggalkan.
Hari itu entah kenapa kami pergi tanpa tujuan, ia pun tak semangat pergi jauh. Saat ia bertanya kemana kita, aku menyebut asal ‘Gambir’ karena itu yang terlintas pertama di benakku.
“Mau ngapain kita ke gambir?” tanyanya pada saat mengendarai motor.
“Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri ngga tau alasannya” jawabku dingin dan motor melaju sangat kencang. Rasyid namanya, hubungan kami lebih dari sekedar berteman pastinya, dan sudah hampir empat tahun dia menjadi pengisi hatiku.
Sesaat setelah memarkirkan motor, aku langsung menggandeng tangannya. Membawanya pergi ke dalam stasiun. Menuju tempat orang menunggu kereta, seolah-olah kami adalah calon penumpang juga. Menghabiskan waktu berjam-jam melihat kereta berlalu lalang, berhenti untuk menurunkan penumpang dan detik kemudian menaikkan penumpang lainnya.
“Mau sampai kapan disini? Kamu aneh” tanyanya dingin. Sudah hampir tiga jam kami disini. Tanpa ada percakapan berarti.
“Bukan aku, tapi hubungan kita yang aneh” aku menatap tajam matanya tepat di manik.
Ia menghela napas “Den, apa sih yang aneh? Aku melakukan kesalahan? Kesalahan apa?”
Aku tak ingin mengucapkan ini, tapi sayangnya harus diucapkan “Ada kesalahan syid. Minggu lalu, aku melihat kamu jalan sama junior itu, dan yang paling penting aku tahu saat itu kamu ngungkapin perasaan kamu, memintanya untuk jadi pacarmu dan ia mengangguk setuju. Benar begitu?”
Ekspresi mukanya langsung berubah membenarkan semua yang telah terucap sebelumnya.Aku melanjutkan “Hubungan ini mungkin udah bikin kamu jenuh, lebih baik kita sudahi saja syid”
Ia terdiam, bermenit-menit berlalu masih terdiam, tak memberi sepatah kata apapun. Hingga akhirnya lelaki tampan yang menjadi kekasih pertamaku ini berbicara dan menatapku “Maafin aku udah menduakanmu. Benar katamu, ada rasa jenuh. Seharusnya aku ga melakukan ini. Aku terima keputusanmu. Sekali lagi maafin aku”
Aku terdiam. Ia mengeluarkan handphone dari saku di celana dan memencet nomor seseorang lalu bercakap “Nath, maaf kita ga bisa nerusin hubungan ini” Klik. Diputus.
Sorotan matanya menggambarkan kekecewaan. Aku ingin memberinya kesempatan sekali lagi saja, tapi hatiku yang lain memerintah sebaliknya. Hubungan kami selesai hari itu.
***
Seseorang menepuk pundakku, membuatku refleks berbalik. Otakku menganalisis sejenak seseorang tersebut : Lelaki muda berhoodie biru tua dan kacamata frame hitam lensa tipis, lelaki itu langsung berkata “Dena kan?”
Aku terdiam dan langsung melihat ke arah kemeja peach yang aku kenakan, apakah aku menggunakan name-tag kantor atau tidak, ternyata tidak. Lalu kenapa dia bisa tahu nama ku? Seperti bisa menjawab pikiranku ia lanjut berkata “Aku tahu dari mas miko” ia menjulurkan tangan mengajak bersalamman lantas aku menyambutnya. “Putra” tambahnya. Ini adiknya mas miko!
Aku melirik arloji yang menunjukkan jam 15:45, astaga. Apa yang aku lakukan dari tadi? Melamun tiada henti selama lebih dari setengah jam? Dan orang yang seharusnya aku jemput saat turun dari kereta nyatanya malah menjemputku di food court.
Aku lantas berdiri dari dudukku dan meminta maaf kepada lelaki ini. Siapa tadi namanya? Putra? “haduuhhh maaf banget maaf.. harusnya saya nunggu kamu di atas ya, malah kamu yang nyamperin gini. Haduhh sekali lagi minta maaf”
Ia malah tertawa melihat kelakuan aku barusan. Saat tertawa ada lesung pipi yang terukir, mirip mas miko. Tidak diragukan ini pasti benar adik mas miko. “Ngga usah berlebihan, itu bukan sebuah masalah. Lagi ngelamunin masa lalu ya?”
Skakmat.
“Heh? Engga kok engga, mikirin laporan akhir tahun perusahaan” aku mengilah dan mencoba tertawa tapi mata lelaki itu menatap tajam, mencoba menebak apakah aku berbohong atau tidak. “Mau langsung ke kantor ketemu mas miko atau gimana?”
Selanjutnya ia mengelus perut dan aku mengerti. Dia ke food court karena kelaparan dan tidak sengaja melihatku. Itu hipotesisku sementara.
“Oalah.. ya udah kamu mau pesan apa?”
“Mau bakso malang, kamu mau?” aku menggeleng sambil menunjuk piring bekas makanan yang sebelumnya sudah ku pesan, kemudian dia melepaskan tas gembloknya dan menaruhnya di kursi yang ada di depanku. Lalu dia tersenyum sekilas dan pergi ke booth bakso malang.
***
Dua mangkuk bakso malang kuah bening telah dihabiskan dalam tempo kurang dari sepuluh menit. “Lapar banget ya tra?”
Ia yang sedang menyeruput teh manis langsung melihat ke arahku “jarang yang memenggal namaku dengan “Tra” kebanyakan “Put” atau “Ra”. Kamu yang pertama”
Aku merasakan pipiku mulai memanas, kenapa ini? Kamu yang pertama? Dan lantunan salah satu lagu band Geisha langsung bergema di kepalaku tanpa di perintah “Kamu berlebihan” itu yang terucap dari bibirku.
“Kata mas miko kamu masih single. Berarti aku ada kesempatan dong?”
“Hah? Aduh mas miko udah cerita apa aja sih tentang aku? Kok bisa tahu gini? Eiya dari semua itu tolong jelasin gimana caranya kamu bisa menemukanku disini. Kok bisa tepat?”
Iya mengangguk-angguk “Oke! Pertama! mas miko udah cerita banyak tentang kamu, tentang kamu anak owner, tentang kejombloan kamu juga. Pokoknya banyak deh, panjang. Yang mas miko tau, aku juga pasti tau.. Kedua? Hmmm.. Udah biarin aku saja dan Tuhan yang tau gimana cara aku bisa menemukanmu”
Aku jadi ngeri sama orang ini. Tidak hanya orang ini saja, tapi juga kakaknya. Adik kakak ini punya aura pemikat tanpa mereka sadari. Aku mendadak lemas seketika.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumahku yang ditemani dengan kemacetan kami bercerita banyak hal. Ternyata putra ini berumuran sebaya denganku. Kami wisuda di bulan yang sama tahun ini. Ia lulusan salah satu universitas negeri terkemuka di Surabaya, sekarang bekerja di perusahaan telekomunikasi yang ada di Surabaya.
“Kamu kapan balik ke Surabaya?” ia seperti kakaknya, selalu fokus ke jalan raya.
“Tanggal 31. Kamu mau antarin aku lagi ga?” aku yang sedang memainkan tab langsung memusatkan perhatian pada sang pengemudi. Putra memiliki ketampanan yang hampir sama dengan mas miko. Tapi otak dan hatiku berkata Putra lebih tampan. “Kenapa harus aku?”
Ia langsung menjawab tanpa berpikir panjang “Mas miko liburan ke bandung, orang tua di Surabaya. Kalau ada yang bisa nemenin aku bakal minta temenin, itu juga kalau kamu ga ada acara tahun baru sih”
Oiya. Malam tahun baru. “Kenapa harus pas tanggal 31 sih? Kenapa ga tanggal 2 atau 3 gitu? Sebentar amat di Jakarta”
“Aku ada project bareng teman alumni kampus, kita udah nentuin tanggalnya dari bulan lalu”
Kemungkinan besar aku akan free pada malam tahun baru. “Baiklah aku akan nemenin kamu” dan senyum sama-sama menghiasi bibir kami.
***
Awal minggu ke-empat di bulan Desember.
Aku melihat karyawan berlalu-lalang dengan muka cerah di awal minggu ini. Bukannya muka mereka seharusnya tidak secerah ini ? Ah mungkin karena hari rabu ada satu tanggal merah, atau mereka akan segera cuti, atau karena bonus akhir tahun yang sudah masuk ke rekening mereka? Dari jauh aku melihat mas miko menuju kubikelku? Hari itu ia mengenakan kemeja coklat lengan panjang dipadu celana bahan berwarna hitam dan sepatu pantopel. Tunggu, dia juga kelihatan cerah, dengan potongan rambut barunya yang cepak sehingga menimbulkan rambut-rambut jabrik yang membuat level ketampanannya meningkat 100%!
Benar saja dia menghampiriku. “Hallo Dena!”
Aku membalasnya dengan sebuah senyuman lalu berkata “Hallo juga mas mik!” Ia mengulurkan sebuah kotak dan menaruhnya di mejaku, sambil berkata “ini ucapan makasih udah jemput adikku”
“Ya ampun, makasih banyak loh mas mik, ngerepotin gini”
“Tentu saja tidak, saya yang ngerepotin kamu. Oiya adikku menitipkan sebuah pesan untukmu!”
“pesan? Pesan apa?”
“pesannya ada di dalam kotak tersebut” ia tersenyum dan bersiap untuk meninggalkan tempatku kemudian berlalu.
Ada beberapa makanan khas Surabaya dalam kotak tersebut, serta sebuah post-it “Selamat bekerja” dengan tulisan Putra di bawahnya. Mendadak hatiku berbunga, aku mempunyai feeling bagus untuk hubungan dengan adiknya mas miko.
***
Disinilah aku berada. Di sebuah restoran western daerah Kemang bersama Putra. Ku kira pesan yang disampaikan mas miko hanyalah sebuah lelucon, ternyata tidak. Adik mas miko ini benar menjemputku dan membawaku ke restoran ini.
“Aku akan menjemputmu setiap hari selama seminggu ini. Kamu tidak cuti kan?”
Aku yang sedang memakan pasta merasa sedikit tersedak mendengar penawarannya itu. “Menjemputku? Hah. Tak usah repot-repot. Aku bisa pulang pergi bersama ayah”
Untuk sekian kalinya ia fokus menatapku dengan ekspresi yang sulit ku mengerti tapi membuai. “Aku cuma sebentar di Jakarta. Jadi aku tidak mau melewatkan sebuah kesempatan untuk mengenal dan mendekati mu”
Kali ini aku beneran tersedak, Putra segera memberikanku segelas air putih yang lalu ku habiskan segera airnya. Aku menyandarkan badanku pada sandaran kursi yang ada. “Tra, kamu itu terlalu mengejutkan buat hidupku”
Ia tersenyum nakal “Terserah kamu, intinya apakah kamu mengizinkan aku untuk menjemputmu ?” ia benar-benar to-the-point. Aku berpikir sejenak kemudian mengangguk meyetujui penawarannya.
Semenjak hari itu hingga hari terakhir liburannya, Putra menyempatkan waktunya untuk mengantar jemputku. Ayah sempat bingung awalnya, tapi kemudian ia menyetujuinya. Ayah pun sempat mengomentari lelaki yang mengantarku seminggu ini. “Sepertinya kalian cocok den, Ayah menyetujui jika kalian berhubungan lebih dari sekedar teman. Sudah lama ayah tidak melihatmu memiliki kekasih. Santai sedikit dengan pekerjaan lah den. Kamu ini masih muda kan. Carilah kekasih” Aku menyadari kemudian, itu bukanlah sebuah komentar. Itu sebuah pembujukan.
Di hari libur natal kemarin, aku dan Putra menghabiskan waktu seharian penuh hanya berdua dengan pergi ke Dufan. Hal itu membuat kami semakin dekat, dan akhirnya sukses membuat ada letupan kembang api di dadaku. Tepat di dalam kincir angin yang sedang bergerak pelan tepat di paling atas aku berkata jujur dalam hati bahwa aku jatuh cinta kepada adik mas miko. Ada hal sederhana yang membuatku jatuh cinta padanya dan itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
***
Akhir tahun disambut dengan guyuran hujan pada pagi hari dan awan mendung sepanjang hari. Aku masih mengulat di kasur, hari ini kantor diliburkan untuk cuti bersama. Hawa pagi ini benar-benar dingin seperti di Puncak. Aku berjalan gontai menuju jendela kamar, mengusap embun yang menempel di jendela dengan jari telunjuk. Melihat keindahan yang tercipta dibalik guyuran hujan yang turun.
Malam ini, Putra akan pulang ke Surabaya. Seminggu ini kami benar-benar bertemu setiap hari tanpa terkecuali. Weekend Minggu kemarin kami mulai dengan melakukan jogging di minggu pagi dilanjut sarapan bubur, marathon nonton DVD, mengacak dapur, duduk santai di taman kota, dan ditutup dinner yang romantis. 
Aku akan mengantarnya ke stasiun, mas miko sudah di bandung bertemu dengan kekasihnya. Iya, mas miko yang aku kira jomblo di akhir tahun ternyata sedang menjalin hubungan dengan salah satu teman  lama yang tinggal di bandung.
“Mba mitha itu cantik banget. Cocok sama mas miko. Semoga bisa lanjut ke pernikahan” itu komentar putra saat aku tanya tentang kekasih kakaknya.
Waktu berlalu cepat, sore ini putra sudah duduk manis di ruang tamu sambil bercengkrama dengan ayah dan ibu. Putra adalah lelaki cerdas, pengetahuannya luas dan kritis, tak heran ia cepat berbaur dengan ayah ibu. Dibalik semua itu, nasib asmaranya kurang lebih sama denganku. Jomblo sepanjang tahun ini dan susah move on! Entah kenapa, kami memiliki beberapa kesamaan. Apakah Tuhan memang sengaja mempertemukan kami?
Makan malam terakhir di tahun ini berlangsung menyenangkan. Kedua kakakku—Ka Raffa dan Ka Ocha—yang baru kembali dari Makassar ikut makan malam bersama di rumah, ibu sengaja menyiapkan makanan special buat kami, semua itu makin terasa lengkap saat ayah juga mengajak Putra agar ikut bergabung. Momen ini tentunya tidak terlepas dari ledekan kedua kakakku.
***
“Keretamu berangkat jam berapa tra?” tanyaku saat kami sudah duduk di lobby stasiun.
“Nanti jam empat pagi tanggal 1 Januari” jawabnya sambil membaca sebuah Koran harian ibukota.
“Hah? Serius? Astaga putra.. kalau tau kamu berangkat jam empat pagi ngapain jam sebelas malam kita udah di stasiun?” aku menatap lekat-lekat lelaki berkacamata tersebut tapi ia masih sibuk dengan bacaannya. Suasana gambir malam ini tidak terlalu ramai, cenderung sepi.
Kami sama-sama diam dalam beberapa menit. Hingga ia mengenggam tanganku tiba-tiba dan berkata “Aku mau menghabiskan detik-detik terakhir di tahun 2013 ini bersama seseorang yang aku sayang. Seseorang yang aku baru kenal kurang dari setengah bulan. Tapi mampu membuat hatiku jungkir balik, membuat aku merasakan rasa yang sudah lama tidak pernah aku rasakan. Aku jatuh cinta padamu, den. Dan aku mau melewati detik pertama di 2014 bersamamu juga”
Aku diam mencerna semua perkataannya. Kemudian ia lanjut bercerita “Hari itu tiba-tiba mas miko menelpon, katanya ada teman kantornya yang minta dicarikan kenalan, awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya. Esok harinya ia bercerita banyak tentang kamu, hingga akhirnya aku disuruh berlibur ke Jakarta, awalnya aku tidak ada niat sama sekali ke sini. Tapi mas miko terus membujuk hingga akhirnya aku mau. Saat hari H, setengah jam sebelum kereta tiba, mas miko memberi tahu kalau kamu yang menjemputku di gambir. Kamu tahu? Aku kaget, entahlah. Saat tiba, aku melirik kanan kiri mencari orang yang menungguku, tapi tidak ada. Akhirnya ku putuskan ke food court, ternyata aku melihatmu. Ya untunglah mas miko sudah pernah mengirim fotomu”
Aku lemas, ternyata ini semua sudah direncanakan oleh mas miko. “Dan aku langsung menyukaimu saat itu. kamu boleh bilang ini gombal, kamu boleh ngga percaya, tapi itu nyatanya”
Akun ingin berkata, tapi bibirku terlalu kelu, aku tak sanggup berkata-kata. Aku melihatnya. Ia selalu tampak cool, ia punya banyak kelebihan salah satunya amat pandai mengatur emosi. Detik kemudian kami bertatapan “Sudah hampir jam dua belas. Sebentar lagi pergantian tahun! Kita keluar dari stasiun dulu yuk!” pintanya yang hanya ku setujui dengan sebuah anggukan dan senyum tipis.
Langit berhiaskan banyak kembang api yang indah, arah monas ramai oleh pesta rakyat. Kami mencari spot yang pas untuk melihat perayaan pergantian tahun dari Gambir. “Lima menit lagi” bisiknya di telingaku. Aku mempererat genggaman tangan putra yang belum dilepaskan dan ia memelukku saat detik terakhir tahun itu dan aku tak kuasa untuk menolak.
Gemuruh kembang api semakin menghiaskan langit di satu menit terakhir. Aku mendengar teriakan masyarakat dari arah monas menghitung mundur “Limaa… Empat…. Tiga… Dua…. Satu… Happy new year” suara terompet, kembang api, teriakan masyarakat dari arah monas melengkapi perayaan malam tahun baru 2014.
“Happy new year putra” akhirnya itu kalimat yang akhirnya aku ucapkan setelah hampir berpuluh-puluh menit diam membeku. Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan lembut “Happy new year too! Semoga semua harapanmu di tahun ini dapat terwujud” Aku tersenyum mengangguk. Detik kemudian, lelaki jangkung itu mengungkapkan perasaannya kepadaku, meminta aku menjadi kekasihnya dan aku menerimanya.
“You are precious thing in my life” itu kalimat yang ia ucapkan sebelum masuk gerbong kereta yang sudah tiba pagi itu. aku hanya membalasnya dengan sebuah kata “Gombal”
Kecupan manis mendarat di dahiku serta pelukan hangat sekali lagi. Ia masuk ke gerbong, detik kemudian pintu kereta tertutup dan kereta pun melaju.
Gambir. Di tempat ini aku kehilangan cinta, dan di tempat ini juga aku menemukan cinta. Gambir bagiku masih jadi tempat perpisahan bagi mereka yang sedang menjalin kasih. 
***

0 komentar:

Posting Komentar