Selasa, 13 September 2016

Hunting di Mayestik, Terdampar di Lavinci

Setelah selesai semua urusan sidang akhir, revisi dan yudisium, akhirnya saya bisa lega untuk memikirkan urusan INI. Bukan, bukan urusan teman hidup. Itumah nanti. 
Pendamping wisuda aja dulu~ 
Urusan apakah itu? Urusan mencari bahan untuk kebaya wisuda. YAY! 
Saat proses nyusun skripsi saya ngga bisa comment macam-macam kalo topik yang dibahas teman-teman udah menjurus ke kebaya wisuda. Semacam takut, bisa ngga ya ikut wisuda semester ini
And yeah, Alhamdulillah, I DID IT!

Dari jauh hari-hari, Ika sih udah menawarkan sebuah ide, yaitu nanti bahan kebayanya seragaman, sama warna, beda model aja. Ketut sih setuju-setuju aja. Kalau saya? Hmm... Hmm...
Namun pada akhirnya, kami—yes, Saya, Ika, Ketut—fix untuk membeli bahan kebaya yang sama. Mama sih nawarin, gimana kalau beli kebaya yang sudah jadi saja? Terus ya saya bilang, udah diajak mau samaan mah sama Ika dan Ketut. Ibunya Ketut pun juga nawarin kebaya yang udah jadi saja. Tapi ya, ujungnya kami memilih untuk membeli bahan.

Setelah setuju dengan opsi kembaran bahan, hal yang cukup bingung adalah urusan Beli bahannya dimana yaaaa? Secara kami memang super awam banget sama urusan beginian.
Awalnya mau di Tanah Abang, and then pindah ke Mayestik, terus tercetuslah Pasar Baru. Kami sepakat mencoret Tanah Abang. Opsi tinggal Mayestik dan Pasar Baru.
Btw, Ika lagi demen sekali serial India : Ranveer and Ishani, jadi ketika dia semangat mengajak ke Pasar Baru, ya saya tau pasti salah satu alasan terselubungnya adalah karena banyak orang India di Pasar Baru.
Btw, Pasar Baru dan Mayestik bagusan mana sih, sebenarnya?
Ya menuruti feeling, akhirnya kami memutuskan ke Mayestik.
Saran saya sebelum ke Mayestik, research habis-habisan dulu deh. Mana toko yang wajib dikunjungi dan mana yang tidak. Soalnya saat saya memutuskan ke Mayestik, saya belum puas research sih haha….dan ya..ujung-ujungnya sedikit kena Zonk -_-

20 Agustus 2016
Saya, Ika dan Ketut adalah wanita-wanita yang saat ini awam—tepatnya buta—tentang hal yang berhubungan dengan bahan-bahan untuk kebaya dan semacamnya. Yang artinya, kalau kami nekat berangkat hanya bertiga saja ke Mayestik berarti kami hanya mengandalkan feeling dan mulut manis penjual dalam menjual bahan di toko mereka. Biar aman, saya mengajak Mama, dan Ketut mengajak ibunya untuk turut serta.

Sesampainya di Mayestik, kami mampir ke toko Mumbai. Ada satu kain berwarna pink dengan campuran silver yang sebenarnya cantik. Harganya 140 ribu/meter. 
Ngga jodoh sama si manis ini

Cuma…karena saya masih penasaran dengan toko-toko sebelahnya, hehe, saya coba bilang ke Ketut dan Ika agar kita lihat-lihat dulu, jangan langsung beli. Sebenarnya saya penasaran sama toko Fancy, karena kalo searching, Fancy merupakan salah satu toko paling hits di Mayestik.
Ada yang sudah pernah belanja di Fancy Mayestik? Gimana gimana? Harga? Pelayanan?
Setelah dari Mumbai, kami melipir ke Lavinci, yang tokonya kebetulan satu deret dan bersebelahan.
Entah sebenarnya rezeki atau tidak, kami yang memang datang sekitar jam 11an, disambut dan dilayani langsung oleh seorang wanita bule yang sepertinya berkuasa dalam toko tersebut. Oke kita sebut "si boss" ya.
Dan kami terperangkap di Lavinci. Literally, terperangkap.
Si boss melayani kami dengan sangat amat baik sekali.
Si boss ini tipe perempuan yang super lincah, gesit dan agresif. Customer yang awam/polos adalah mangsa lezatnya. Dia tidak akan membiarkan customer awam yang masuk ke tokonya bisa keluar dengan tangan hampa. (._.)/| *self pukpuk*.
Ishani?? Ranveernya mana?
Ranveernya di Bali ya??

Niat awal kami untuk membanding-bandingkan harga antartoko tidak berhasil. Kami stuck di toko ini dan ujung-ujungnya kami membeli bahan kebaya wisuda di toko ini.
Oke, seharusnya kami berani pergi, atau tegas dengan prinsip : lihat-lihat dulu. Tapi si bossnya ini nyerocos terus dan tidak memberi kesempatan kami untuk bertingkah. Damn
Dan ya, si boss tipe yang tadaaa tiba-tiba udah gunting bahan padahal kita masih berpikir keras untuk deal or no deal. Ya, apa yang bisa dilakukan customer kalau bahan sudah terlanjur digunting? Kalau yang berani mungkin akan main tinggal, cuma kami ngga bisa begitu sayangnya ahaha -__-

Dan ketika semua belanjaannya sudah ditotal.. JENGJENG…. 
Woyy ini total harganya kenapa mahal sekali….???  

Demi apapun, feeling saya kalau di toko sebelah—entah sebelah mana—kita bisa mendapatkan harga yang lebih rendah daripada itu. 

TUJUH RATUS RIBU.. TUJUH RATUS RIBU.. untuk brukat, satin dan kain songket.
Sebenarnya 720 ribu malah, tapi mama ngasihnya pas 700 ribu (._.)/|

Saya sebenarnya mau ngasih rincian bahan-bahan yang saya beli berikut harganya. Tapi maaf ngga bisa. Soalnya saya lupa harga pastinya berapa, nanya Ika dan Ketut juga jawabnya ngga pasti tentang harga tepatnya berapa. Terus kita ngga dikasih Nota-nya coba. Dan ya polosnya pun kita ngga minta notanya -_-
*note : jangan pernah lupa minta nota!
*note : nota ngga dikasih kalau ngga minta!
Saya lupa, kami minta brokat 2 meter / 2,5 meter, pas saya bawa bahannya ke penjahit saya baru sadar ternyata bahannya ngga nyampe 2 meter loh :)) Pas diukur cuma 1.7 meter. NICE!! Kalo kata penjahitnya Ika : di Jakarta memang banyak pedagang nakal #FYIajaSih

Brokat dan satin yang kami pilih

Songket yang kami pilih

Dalam perjalanan pulang, saya gugling tentang Lavinci. Dan ya, ternyata saya menemukan bahwa saya bukanlah satu-satunya diperlakukan seperti itu sama si boss : ngga diberikan kesempatan ngomong, harga akhir beda dengan harga nego, dll. Langsung saya capture penggalan review dan saya share ke Ika dan Ketut.

Kalau kata kakaknya Ketut, brukat yang kami pilih seperti brukat untuk ibu-ibu *sedih amat
Kalau kata temen kostannya Ika, warna yang kami pilih terlalu pucat. 
BUKAN BUAT IBU-IBU KAN? 
BUKAN KAN?

Ujung-ujungnya juga InsyaAllah akan jadi Ibu kan? kan?
Yaudahlah....

So… buat yang mau cari bahan, terutama ke Mayestik, saya cuma mau bilang, kalau sampai masuk ke Lavinci, Hati-hati saja ya! Fokus kalau udah ngomongin harga. Jangan sampai harga pas nego beda dengan harga di nota. 
Kalau mau masuk boleh saja, tapi sebaiknya letakkan list toko tersebut di paling terakhir ketika kalian belum mendapatkan apa yang kalian cari di toko-toko sebelah lainnya :)) 


*lihat-lihat galeri*
hhh.. kenapa kami ngga milih yang ini ya?
kenapa kami malah milih motif sidik jari ya?
hhh

Kesimpulan : Kami sangat amat terlalu awam


Cheers,

ANR


3 komentar:

  1. Kalok kata Mama ku sik pas karyawannya guntingin kain kita harus mastiin bener gak sekian meter. Hahah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau beginian, kita sebagai pembeli harus benar-benar teliti banget ya... jangan mau dikadalin sama penjual x'D

      Hapus
  2. Betul..begitu dibayar harga beda dg yg ditawarkan..begitu dihitung bahan kurang 1,5m lebih..gilaaa...

    BalasHapus